Memahami Fungsi Setiap Menu Admin di Google Analytics – Bagian 2b

menu-analytics

Ini adalah bagian kedua dari penjelasan menu di bagian, yaitu property. Pada kolom kedua ini, ada 12 bagian seperti gambar di bawah ini.

menu property

Mari kita lihat bersama-sama penjelasannya.

Nama Property (1)

Pada menu ini, anda bisa melihat berapa banyak property yang telah anda buat dan melihat ID property-nya. Selain itu anda bisa membuat property baru seperti yang pernah bahas pada artikel sebelumnya.

dropdown property

Anda bisa lihat pada posisi yang dinomori. ID property ini mempunyai perbedaan pada hanya akhir nomor. Bila anda menambah property baru, maka IDnya akan menjadi UA-46697193-3.

Dalam satu akun, kita bisa membuat maksimal 50 property dan untuk nomor 3, tombol itu digunakan untuk membuat property baru.

Property Settings (2)

property settings

Keterangan

Nomor 1, tombol tersebut digunakan untuk menghapus properti dan mengirimkannya ke Trash Can.

Nomor 2, untuk melihat Google Analytics ID.

Nomor 3, di sini anda bisa mengganti nama property.

Nomor 4, Nah kalau anda ingin mengubah default URL yang pernah anda buat diawal, di sini anda bisa menggantinya.

Nomor 5, Bila anda ingin mengubah data view mana yang akan masuk ke dalam property ini, silakan ganti pilihannya di menu ini.

Nomor 6, Industry category. Pemilihan kategori ini bersifat opsional jadi silakan anda pilih sesuai kategori sesuai dengan bisnis anda.

property settings

Nomor 6, Advanced Settings ini merupakan pengaturan untuk tagging. Tagging ini digunakan agar Google Analytics dapat menampilkan kata kunci-kata kunci dan biaya-biaya yang berasal dari Google Adwords secara lebih detail.

Ada dua jenis tagging:

  • Auto Tagging
  • Manual Tagging

Auto Tagging

Jika anda mengaktifkan fitur auto-tagging, ada sebuah parameter yang disebut “gclid” akan ditambahkan pada URL website anda (halaman yang ada pasang di iklan). Contohnya adalah

www.websitesaya.com/?gclid=123xyz

Begini cara untuk mengaktifkan auto-tagging.

1. Login ke akun Google Adwords anda.

auto tagging

2. Klik tombol gerigi di pojok kanan atas lalu pilih Account settings. (lihat gambar atas)

3. Pada menu kiri, pilih “Preference“, lalu pilih “Edit” pada submenu “Tracking”menu property

auto-tagging-buat-adwords

4. Centang “Destination URL Auto-tagging” dan “Save changes”

Secara default, pengaturan di Google Analytics menggunakan Auto-Tagging sedangkan tapi di Google Adwords anda harus mengaktifkannya terlebih dahulu.

Tapi bila ada kasus spesial dimana bila ditambahkan parameter “?gclid=123xyz” misalnya membuat website tersebut menjadi error maka ada baiknya anda menggunakan manual tagging dan mencentang pilihan “Allow manual tagging (UTM values) to override auto-tagging (GCLID values)”

Selain itu pada umumnya kasus untuk manual tagging ini dipakai ketika anda ingin menyelidiki sumber pengunjung yang berasal bukan dari “Adwords”. Jadi ingat bahwa Auto-Tagging ini dibuat khusus untuk Google Adwords.

Ada lima hal yang bisa kita rekam jejaknya dengan manual tagging:

  1. Campaign
  2. Source
  3. Medium
  4. Content
  5. Keyword

Sedangkan untuk auto tagging, data dimensi yang bisa direkam bisa lebih banyak:

  1. Query Match Type (Bagaimana kecocokan kata kunci anda dengan hasil pencarian di mesin pencari)
  2. Ad Group (The ad group associated with the keyword/creative and click)
  3. Destination URL (URL target dari iklan AdWords yang anda pasang)
  4. Ad Format (teks, gambar, video)
  5. Ad Distribution Network (di mesin pencari Google)
  6. Placement Domain (website yang bekerja sama dengan Google dimana iklan anda tampil di sana)
  7. AdWords Customer ID

Selain itu anda akan mendapatkan data seperti waktu, penempatan (dimana iklan anda tayang), posisi website anda di Google.

Untuk penjelasan ini lebih detail, saya akan bahas di artikel yang lainnya.

Nomor 7, Property Hit Volume ini memberikan kita laporan berapa banyak hit yang telah terjadi kemarin, 7 hari lalu, atau 30 hari lalu. Pada poin ini ada baiknya anda membaca artikel saya tentang penjelasan tentang hits, sessions, dan Users agar lebih mengerti.

Nomor 8, Fitur Enable Demographics and Interest Reports ini membuat kita dapat melihat laporan umur, jenis kelamin, dan ketertarikan pengunjung kita pada laporan Google Analytics.

Ada 3 tahap yang harus dilakukan sebelum menggunakan fitur ini.

1. Anda harus mengaktifkan “Advertising Features” agar anda memberikan izin Google Analytics untuk mengumpulkan informasi tambahan dari cookie (aktivitas web) dan dari pengguna aplikasi. Dengan cara pertama anda harus mengubah sedikit kode Google Analyticsnya. (akan dibahas pada bagian Tracking Info)

2. Mematuhi persyaratan kebijakan Google di sini.

3. Mengaktifkan laporan “Demographics and Interests” di Audience » Interests » Overview

enable-demographics-interest-reports

Dalam waktu 24 jam, Google Analytics akan mengumpulkan data-data ini.

Nomor 9, Fitur “Use enhanced link attribution” memberikan kita beberapa fungsi agar kita bisa:

  • melihat informasi terpisah ketika di sebuah halaman terdapat beberapa tautan/link yang mengarah ke tempat tujuan anda yang sama, misalnya halaman “contact us”. Nanti ketika anda melihat laporannya, ada informasi setiap tautan/linknya.
  • melihat sebuah halaman mempunyai beberapa tujuan yang berbeda. Contohnya sebuah tombol “search” di sebuah halaman akan menggiring pengunjung ke beberapa tujuan halaman yang berbeda.
  • merekam tombol, menu, dan sebuah tindakan yang dipicu oleh JavaScript.

Tetapi untuk menggunakan fitur ini mengharuskan kita mengubah sedikit kode Google Analytics yang kita punyai. Lihat contohnya di bawah ini:

ga(‘create’, ‘UA-XXXX-X’);

ga(‘require’, ‘linkid’);

ga(‘send’, ‘pageview’);

Tulisan warna hijau adalah default dari kode Analytics yang diberikan pertama kali pada kita.

Tulisan warna merah adalah kode tambahan pada Google Analytics yang diberikan pada kita.

Tambahkan kode ga(‘require’, ‘linkid’); pada kode GA anda lalu aktifkan fiturnya dengan mengubah tombolnya dari OFF jadi ON.

enchanced link attribution

Untuk mengakses laporannya silakan ikuti petunjuk gambar di bawah ini.

reporting-admin

Pada menu kiri, masuk ke dalam menu Behaviour » In Page Analytics

behaviour

Bila anda mendapati pesan error seperti di bawah ini berarti kode yang anda masukan salah.

in Page Analytics

Sekarang kita membahas dua menu terakhir.

start in page analytics

Nomor 10, pilihan ini masih berhubungan dengan menu nomor 9.

Nomor 11, Tombol ini akan menghubungkan akun Google Webmaster Anda dengan Google Analytics. Anda bisa mengakses data dari Google Webmaster di dalam Google Analytics dengan cara klik menu sebelah kiri » Acquistion » Queries

Adjust Webmaster Tools

Oke mari kembali ke menu utama dari kolom property. Kali ini selanjutnya yang akan saya bahas tentang

User Management (3)

Saya tidak perlu membahas tentang “User Management” karena sudah saya bahas pada artikel sebelumnya. Yang perlu saya tambahkan adalah bila anda mengatur izin pengguna di level account, maka pada level Property dan level View, izin penggunanya akan mengikut apa yang anda atur pada level account. (account > property > view).

Contohnya anda memberikan izin “Edit” saja di level account maka pada level property dan view langsung diatur secara otomatis User Managementnya menjadi “Edit”

Bila pada level account, anda hanya memberikan izin Collaborate, lalu anda mengganti izin pengguna di level Property dan memberikan semua izin, maka pada level view, pengguna view itu memiliki semua izin tapi pada level account, izin pengguna tetap hanya “Collaborate”.

Tracking Info (4)

Dalam menu Tracking Info ini ada 7 sub menu. Ini adalah daftar submenunya.

tracking info sub menu

Tracking Code (a)

Di sinilah tempat anda mengambil kode Google Analytics yang harus anda masukan ke website anda. Selain itu anda bisa memeriksa status dari kode yang anda pasang. Beberapa status yang perlu anda perhatikan adalah

Waiting for Data

Kode trackingnya telah terdeteksi di halaman depan website anda dan server Google Analytics sedang melakukan perubahan konfigurasi sebelum datanya dapat diproses dan ditampilkan pada laporan anda.

Tracking Not Installed or Not Verified

Kode trackingnya belum diletakkan secara benar pada halaman website anda. Silakan diperiksa lagi kodenya apakah sudah terpasang dengan cara buka websitenya lalu tekan CTRL+U » CTRL+F » ketik UA-

Receiving Data

Kodenya sedang mengumpulkan dan mengirimkan data ke pusat Google Analytics. Anda masih dapat menggunakan tool lainnya seperti Google Analytics Debugger untuk melakukan analisa yang lebih mendalam.

Unknown

Tidak ada data yang tersedia yang Google Analytic dapat pakai untuk menjelaskan jika kode tracking sedang bekerja. Coba cek setup yang anda lakukan untuk menemukan solusi.

tracking id

Data Collection (b)

Data collection ini digunakan untuk mengaktifkan fitur Advertising. Lalu apa itu fitur Adversiting? Fitur Advertising adalah koleksi dari data yang didapatkan dari cookies pengiklan di mana dengan cookies ini anda dapat:

– membuat Remarketing Audiences berdasarkan spesifik tingkah laku, demografis, ketertarikan dan menggunakan daftar ini dengan untuk Google Adwords.

– menggunakan demografis dan hobi/ketertarikan terhadap sesuatu pada laporan Analytics anda.

– membuat segment berdasarkan demografik dan ketertarikan sehingga anda bisa memecah data berdasar umur, jenis kelamin, dan ketarikan mereka terhadap sesuatu.

Ada dua fitur yang bisa diaktifkan disini.

remarketing-adversiting-reporting

Remarketing

Fitur ini melibatkan kembali pengunjung yang sekiranya ada ketertarikan kepada apa yang anda tawarkan. Gampangnya bila anda pernah mengunjungi situs seperti Lazada, lalu ketika anda pergi ke sebuah situs misalnya detik.com, maka iklan yang akan tampil kebanyakan akan memuat iklan Lazada.

Secara psikologi, alam bawah sadar anda menggiring anda kepada Lazada karena iklan itulah yang selalu/sering di depan layar monitor anda.

Bahasa gampangnya, dengan remarketing calon konsumen anda akan dikejar oleh layanan pengiklan sampai mereka melakukan sesuatu seperti yang anda inginkan.

Advertising Reporting Features

Seperti informasi yang ada di atas, bila anda ingin laporan anda bisa memberikan laporan demografi, umur, jenis kelamin, dan ketertarikan mereka, anda cukup mengaktifkan Advertising Reporting Features.

User-ID (c)

user id

Apa itu kegunaan User-ID? Apa perbedaan jika anda mengaktifkan user id dan tidak?

Jika anda mengimplementasikan Google Analytic tanpa mengaktifkan user-id, setiap pengguna yang unik dihitung setiap kali mereka mengakses artikel anda, baik melalui perangkat yang berbeda dan di setiap session baru.

Sebagai contoh, seorang pengunjung melakukan pencarian di website anda pada hari pertama, lalu ternyata pengunjung tersebut melakukan pembelian pada hari ke 3 di laptopnya, dan setelah itu pengunjung tersebut memesan sesuatu kepada customer service anda memakai tablet sebulan setelahnya.

Bila anda tidak mengaktifkan User-ID maka Google Analytic menghitungnya sebagai tiga orang yang berbeda walau orang yang membeli adalah orang yang sama, sekalipun semua tindakan ini dilakukan pada saat pembeli dalam keadaan login.

Jika anda mengaktifkan fitur User-ID maka anda dapat mengidentifikasi semua tindakan yang berhubungan dan perangkat yang pembeli gunakan untuk membeli sesuatu di website anda. Jadi selama seseorang tetap melakukan login dengan akun yang sama, mereka dapat diidentifikasikan sebagai pengguna yang sama walau perangkat atau browsernya berbeda.

Catatan: Fitur ini akan aktif bila pengguna melakukan login terhadap website anda.

Bagaimana cara mengaktifkannya?

1. Setelah menyetujui User-ID Policy, klik Next

User ID Policy

2. Setelah itu anda harus memasukan sebuah tambahan kode ke kode Google Analytics anda. Ingat bahwa anda harus telah menggunakan kode GA yang menggunakan analytics.js.

ga(‘set’, ‘&uid’, {{USER_ID}}); // Set the user ID using signed-in user_id.

Jangan lupa untuk mengganti {{USER_ID}} dengan sebuah variabel yang unik sebagai tanda. Letakkan kode tersebut di bawah kode ga(‘create’, ‘UA-XXXXXXXX-1’, ‘auto’);

extra tracking code

Peringatan: Gunakan tanda petik yang standar.

Jangan letakan kode di atas seperti ini:

ga(‘create’, ‘UA-1234567-34’, ‘auto’);

ga(‘send’, ‘pageview’);

ga(‘set’, ‘&uid’, {{USER_ID}}); // Set the user ID using signed-in user_id.

atau seperti ini

ga(‘set’, ‘&uid’, {{USER_ID}}); // Set the user ID using signed-in user_id.

ga(‘create’, ‘UA-1234567-34’, ‘auto’); // create a tracking object

ga(‘send’, ‘pageview’);

3. Apa itu Session Unification?

Anda bisa menghubungkan client ID (standar Google Analytic) dengan fitur User ID. Sebelumnya mari kita lihat lagi perbedaan antara client ID (defaultnya Google Analytics) dan User ID.

  Client ID User ID
1 Client ID merupakan sebuah pengenal yang unik untuk setiap browser/perangkat. User ID adalah pengenal yang unik untuk setiap pengunjung yang pertama kali datang.
2 Client ID dibuat dan ditetapkan oleh Universal Analytics cookie _ga User ID dibuat dan ditetapkan oleh kita sendiri.
3 Client ID ditetapkan kepada setiap pengunjung unik yang masuk ke website anda. User ID ditetapkan ketika pengunjung tersebut melakukan login.
4 Client ID dibuat dari angka acak yang unik dan waktu pertama kali pengunjung itu datang. User ID dibuat berdasarkan karakter alphabet.
5 Client ID hanya bisa terbentuk pada browser atau perangkat yang sama. Oleh karena itu Client ID tidak bisa digunakan untuk melacak seorang pengguna bila berganti perangkat misal dari desktop ke ponsel. User ID dapat bekerja diantara perangkat dan browser yang berbeda.
6 Client ID tidak bisa secara akurat mengidentifikasi jumlah dari pengunjung pertama kali datang sehingga bila pengunjung tersebut masuk kembali dengan perangkat berbeda, pengunjung itu tetap dianggap pengunjung pertama. User ID dapat lebih akurat mengidentifikasi unik pengunjung ke website anda dan hanya dihitung sekali walau mereka mengganti perangkat/browsers.
7 Karena didasarkan oleh browser atau peringkat yang dipakai, maka client ID ini dapat memberikan kita data yang lebih detail karena Client ID ini langsung dibuat ketika pengunjung masuk ke dalam website. Fitur User ID ini tidak akan bekerja sebelum pengunjung tersebut melakukan registrasi dan login dengan akun tersebut.

Anda dapat menggabungkan keunggulan dari client ID dengan User ID agar merekam kegiatan pengunjung sebelum mereka melakukan registrasi dan login. Metode ini disebut dengan “session stitching“. Dengan cara ini anda dapat mengatasi keterbatasan dari fitur User ID.

Jika seseorang mengunjungi website anda tanpa login maka sebuah client ID akan diberikan kepada pengunjung tersebut. Sekarang jika orang yang sama login kemudian, maka sebuah User ID yang unik akan ditetapkan kepada dia.

Dengan menggabungkan client ID dengan User ID, maka kita dapat mengetahui apakah yang pengunjung tersebut lakukan sebelum dia melakukan registrasi. Dengan cara ini kita dapat melihat gambaran yang lebih jelas tentang aktivitas yang dia lakukan sebelum membeli.

Tapi “session stitching” ini tetap mempunyai keterbatasan. Penggabungan antara Client ID dan User ID dapat bekerja dengan baik bila seseorang sedang mengunjungi dan login ke website anda melalui perangkat dan browser yang sama dan hanya dia seorang yang menggunakan perangkat dan browser tersebut.

Jika beberapa pengguna sedang menggunakan perangkat dan browser yang sama (contohnya warnet) maka tidak ada jaminan orang tersebut adalah orang yang sama yang melihat website anda tanpa melakukan login.

Demikian pula, seseorang yang mengunjungi website anda melalui perangkat dan browser yang bermacam-macam tanpa login. Dalam kasus ini, orang ini akan diberikan beberapa Client ID dengan satu User ID.

Intinya fitur ini hanya akan menghubungkan satu Client ID dengan User ID.

Cara untuk mengaktifkan fitur ini cukup mudah yaitu menyalakan fitur “Session Unification

session unification

Setelah itu pada bagian reporting, anda akan mendapatkan sebuah menu baru, yaitu cross device.

device overlap report

Session Settings (d)

session setting

Secara default, session akan berakhir pada waktu 30 menit ketika tidak ada aktivitas sama sekali dan campaign akan berakhir setelah 6 bulan. Pada menu ini kita bisa merubah waktu default dari session dan campaign.

Organic Search Sources (e)

organics search sources

Di sini anda bisa mendaftarkan sumber organic list (aka search engine) yang mungkin tidak terlalu familiar. Untuk pengaturan “Organic Search Sources” ini hanya bisa bekerja bila anda menggunakan analytics.js pada kode Google Analytics anda. Jika anda sekarang ini menggunakan versi ga.js silakan ganti kode Google Analytics anda dengan ga.js.

Referral Exclusion List (f)

referral exclusion list

Sama dengan yang di atas. Fitur ini hanya bisa digunakan bila anda menggunakan analytics.js. Di sini anda bisa mendaftarkan domain-domain yang referral trafficnya ingin anda kecualikan dalam laporan Google Analytic anda. Defaultnya adalah domain anda sendiri karena tidak mungkin domain anda sendiri referensikan domain anda.

Mungkin anda bertanya, lalu apa gunanya fitur ini?

Fitur ini banyak digunakan untuk memblokir referensi sampah/junk referral yang akan mempengaruhi laporan Google Analytics.

Search Term Exclusion List (g)

search term exclusion

Gunakan fitur ini dengan menggunakan analytics.js. Fitur ini membuat kata kunci yang masuk ke website anda melalui mesin pencari tidak akan dianggap sebagai organic traffic tetapi menjadi direct traffic. Misalnya anda ingin ketika orang mengetikan namadomain anda di mesin pencari, maka statusnya diubah menjadi direct traffic.

Saya cukupkan sampai disini pembahasan menu di bagian property. Artikel selanjutnya akan membahas tentang menu Product Linking.

1 Trackbacks & Pingbacks

  1. Apa Itu Hits, Sessions, dan Users?

Leave a comment

Your email address will not be published.

*